April 2014
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Analisis Ekspresi HIF pada Penderita Systemic Lupus Erithematosus Hemolitic Anemia 1 (SLEH 1)

Oleh: Rini Puspitaningrum

Mengingat bahwa jumlah sel darah merah pengikat oksigen pada penderita lupus sangat rendah maka sangat perlu untuk mengetahui status hipoksia (kondisi kurang oksigen) penderita lupus.  Status hipoksia merefleksikan prognosis abnormalitas fungsi organ pada penderita lupus. Penelitian analisis ekspresi HIF (Hypoxia Inducible Factors) pada penderita systemic lupus erithematosus hemolytic anemia 1 (SLEH 1) merupakan penelitian pendahuluan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran status hipoksia secara umum melalui teknik pengujian molekuler dan imunologi pada 2 orang sampel penelitian penderita lupus.  Hasil pengujian uji ekspresi gen HIF melalui teknik RT PCR dan uji ekspresi protein HIF dengan teknik imunodifusi serta hasil analisis gas darah menunjukkan bahwa 2 orang penderita lupus dalam sampel penelitian ini tidak sedang dalam kondisi hipoksia. Hasil pengujian ini mendukung keadaan performance sampel dalam keadaan sehat (mampu melakukan aktivitas secara optimal). Penelitian ini menjadi dasar penting untuk melanjutkan penelitian status hipoksia dengan menggunakan sampel penderita lupus dalam jumlah yang lebih besar/representatif dan dalam berbagai performance status kesehatan yang lebih beragam.

Keywords : gen HIF, protein HIF, gas darah, imunodifusi.

Analisis Modifikasi Tekstil dari Serat Sutera dan Nenas Sebagai Produk Tekstil

Oleh: Dewi Suliyanthini

Penelitian ini eksperimen murni, yaitu melakukan produk baru dari daur-ulang limbah daun nenas menjadi produk tekstil dengan memodifikasikannya dengan serat sutera. Komposisi pembuatan kain ini adalah 80% sutera dan 20% serat nenas.

Pengujian hasil pembuatan produk tekstil yaitu dilakukan pengujian kekuatan tarik kain guna mengetahui standar kain tekstil, dan pengujian ketahanan luntur kain terhadap pencucian dan terhadap gosokan, baik dengan zat warna sintetis maupun zat warna alam

Hasil penelitian diperoleh data informasi bahwa kain modifikasi sutera-nenas memiliki kekuatan tarik arah pakan (arah serat nenas 20%) sebesar 14,22kg dan kekuatan tarik arah lungsin (serat sutera 80%) sebesar 18,59kg. Dengan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan sebesar lima (5) yang berarti sangat baik terhadap afinitas zat warna sintetis jenis reaktif dan memperoleh nilai 4-5 yang berarti baik terhadap pencelupan zat wartna alam jenis curcuma (kunyit).

Hal ini menunjukkan bahwa kain modifikasi serat sutera-nenas layak digunakan sebagai kain produk tekstil untuk pakaian mewah atau pakaian pesta.

Pemanfatan Jaringan Internet Sebagai Kendali Jarak Jauh Pengaturan Aktuasi Model Pintu Air Manggarai

Oleh: Irzan Zakir

Pintu air adalah salah satu bagian penting dari sistem tata air di kota-kota besar di Indonesia sebagai alat pengendalian banjir. Pemanfaatan internet pada sistem pengaturan pintu air  adalah suatu sistem yang dapat memberikan sisi efektifitas dalam mengatur tata air berdasarkan data yang diberikan dari jarak jauh.

Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan menguji alat pengatur model pintu air dengan menggunakan komputer client dan server yang terhubung oleh media internet.

Penelitian dilaksanakan di Laboratarium Kompuer Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta mulai bulan Maret 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010, dengan menggunakan metode penelitian eksperimen laboratorium. Alat yang dibuat dalam penelitian ini terbagi atas dua bagian, bagian pertama adalah rangkaian driver (penggerak) motor gearbox DC sebagai penggerak pada mekanik pintu air. Bagian kedua adalah rangkaian input yang digunakan sebagai indikator pintu tertutup atau terbuka. Pengoperasian alat ini menggunakan perangkat lunak (software) berupa program yang dibuat dalam bahasa pemrograman visual basic 6 dan terhubung dengan jaringan komunikasi internet.

Perancangan Audiometer

Oleh: Budjari, Wisnu Djatmiko, Muhammad Yusro

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mewujudkan Audiometer (alat pengukur bunyi) di Jurusan Teknik Elektro. Audiometer dapat disusun atas tarnduser, pemroses dan output yang berupa skala  angka digital.

Untuk input bunyi yang kecil digunakan mikropon dan untuk output besar digunakan membram speaker. Pemroses menggunakan suatu penguat yang dirancang menggunakan variable gain. Setelah gain ditatkan sesuai output dB yang telah distandarkan maka variable gain dimatikan. Dengan cara ini standar output tidak mudah untuk diadakan perubahan. Untuk memudahkan pembacaan dalam dB maka outputnya audiometer menggunakan angka digital. Uji coba pengukuran tegangan kerja dilakukan di laboratorium Jurusan Teknik Elektro. Uji peneraan hasil rancangan (Audiometer) dilakukan di luar laboratorium. Kalibrasi dilakukan pada tiga titik yaitu 0 dB, 65 dB . Kalibrasi 0 dB menggunakan suara garputala frekuensi 1000 Hz. diputar (diperlemah) dari tingkat kedengaran (di atas 0 dB) hingga perbatasan pendengaran 0 dB dengan mengacu satu orang dari   5 orang dosen/mahasiswa yang memiliki pendengaran paling tajam. Selanjutnya  kalibrasi 90  dB dilakukan dengan memenangkap suara kereta api yang lagi melaku pada jarak 2 meter

Hasil penelitian berupa Audiometer  yang menggunakan output angka digital. Batas ukur yang bisa dilihat drii nol dB hingga 140 dB.

Pengembangan Fasilitas Interpretasi Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Pengalaman Wisata Pengunjung di Musium Konferensi Asia-Afrika Bandung Jawa Barat

Oleh:Heryanti Utami

Interpretation that Heritage Tourism, Attractions, Interpretation, Experience, MuseumAsian-African Convention Museum), Site, Visitor

Museum Konferensi Asia-Afrika (Asian-African Convention Museum) has built an international reputation as one of the world’s attractive heritage tourism that gained a big success both in formulating common concerns and in preparing operational guidance for cooperation among Asian African Nation as well as increating world order and world peace. Heritage attractions represent irreplaceable resources for the tourism industry so interpretation is a vital component of their management. Heritage sites nee d to have their own unique attributes emphasized and the interpretation and presentation of the attraction must be such as to accommodate the needs of the visitor. The study examines how interpretation and experiential related in the context of heritage to urism. The empirical analysis carried out on a sample of visitors to an allows us to confirm that the perceived quality is a direct determinant of satisfaction, as are emotions.. Finally, the way in which interpretation technic is studied, as generator of visitor satisfaction through an experience.

Key words : Konferensi Asia-Afrika (Satisfaction)

PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP INDUKSI KALUS PRIMER MELALUI JALUR EMBRIOGENESIS PADA JAMBU METE

Oleh: Christiani

Cashew is an export commodity with high economic value. But productivity si relatively low in Indonesia due to the lack of availability of quality seed an improved varieties. To maintain to superior characteristics of the parent tree development in the area must be propagated vegetatively. One effort to overcome these problems is vegetatively propagated through tissue culture. The method in this research is design experimental method. Datas were analysed using analysis of variance (ANOVA), and were continued using Friedman test and double comparison test. Leaf explants used were derived from in vitro shoots in vitro. The basic medium used was Murashige-Skoog medium (MS) and Hevea. Combinations of growth regulators used were 2,4-D; kinetin; and BA with the concentration of 5, 10, 15, 20 mg/l. Observations were induction time, color, and structure of primary callus. The results showed that the fastest primary callus appeared on Murashige-Skoog medium in the treatment of 2,4-D with the concentration of 20 mg/l and lowest for the Media Hevea on treatment with 2,4-D concentration of 10 mg/l. Callus varied colors that appear there is a white, yellow and brown. Callus has formed and compact crumb structure.

Keywords : Anacardium occidentale L.; primary callus; plant growth regulator.

ADHI PURNOMO

Oleh: ADHI PURNOMO

Kawasan pesisir mempunyai potensi sumberdaya alam yang potensial, yakni sumberdaya alam hayati dan non hayati.  Selain memiliki potensi yang sangat besar, kawasan peisisir juga mempunyai beberapa permasalahan dalam pengelolaannya, salah satunya adalah ketimpangan sosial ekonomi dan kemiskinan masyarakat pesisir, dan terkadang dalam upaya membangun wilayah pesisir dan laut menunjukan hasil yang kurang optimal, tumpang tindih, sektoral dan cenderung menuju kearah yang tidak berkelanjutan (unsustainable).  Berbagai gejala kerusakan lingkungan termasuk pencemaran, penangkapan ikan berlebih (overfishing), degradasi fisik habitat utama pesisir sehingga mencapai tingkat yang mengancam kapasitas berkelanjutan ekosistem pesisir dan laut yang dapat mengakibatkan sebagian masyarakat bergumul dengan kemiskinan.  Padahal kemiskinan selain sebagai akibat dari kerusakan lingkungan (pesisir), sekaligus juga sebagai penyebab kerusakan lingkungan.  Dengan perut kosong, seorang penduduk pesisir (nelayan) sangat kecil kemungkinan akan peduli dengan lingkungan pesisir. Pemberdayaan masyarakat pesisir yang berbasis kelautan harus memperhatikan potensi-potensi lokal yang ada di daerah tersebut sehingga akan memudahkan dalam proses akselerasi program yang dijalankan. Besarnya tingkat perkembangan ekonomi pesisir dipengaruhi oleh besarnya investasi yang masuk, sistem organisasi yang ada diwilayah tersebut, Infrastruktur, pengawasan, dan keberlanjutan program-program yang dinilai baik. Pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya meningkatkan sumber penghasilan masyarakat pesisir

Kata Kunci      : Pemberdayaan, Masyarakat pesisir, Ekonomi Kelautan

Irwan Saputra

Oleh: Irwan Saputra

Studi Biosensor Elektrokimia Berdasrakan  Immobilisasi Enzim Untuk Mendeteksi Daging Babi Pada Makanan.  Biosensor membuat kerja menjadi praktis dan mudah.  kebutuhan alat biosensor yang praktis dan murah sangat diperlukan oleh umat muslim sehingga dapat mendeteksi lebih dini keberadaan daging babi di dalam makanan.  Metode analisa enzim melalui metode bioinformatik, yaitu mencari kesamaan enzim babi dengan enzim yang ada pada hewan lain telah dilakukan.  Penggunaan program Uniprot memperkirakan adanya 2 enzim babi yang tidak ada kemiripan 50% dengan enzim pada hewan lainnya yaitu Glucan 1,4-alpha-branching enzyme 1 dan Ubiquitin-activating enzyme E1C.

ANALISIS PARTISIPASI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM) DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI JAWA BARAT

Oleh: Alsuhendra

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat partisipasi LSM dalam mendukung ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelola LSM memiliki pengetahuan tentang konsep ketahanan pangan yang relatif sedang, karena hanya sekitar 51.4% dari pengelola LSM yang dapat menjawab secara tepat setiap pertanyaan yang diajukan. Hanya sebagian pula dari pengelola LSM yang mengetahui dan memahami permasalahan pangan di Jawa Barat. Tidak semua LSM pernah bekerjasama dengan BKP dalam melaksanakan kegiatan yang mendukung ketahanan pangan di Jawa Barat. Beberapa LSM telah berpartisipasi untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui pelaksanaan sejumlah kegiatan secara mandiri. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain adalah: 1) pembinaan khusus kepada petani, 2) pengembangan komoditas unggulan spesifik lokal, 3) pemberdayaan kelembagaan tani, 4) pengembangan keanekaragaman pangan lokal dan konsumsi pangan, 5) optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan, 6) pengembangan lumbung pangan masyarakat, 7) pembinaan pengolahan hasil pertanian, 8) pemberdayaan masyarakat miskin dan rawan pangan, 9) pengembangan usaha pertanian dan peternakan, 10) peningkatan pengetahuan dan kesadaran petani atau peternak, 11) pemantauan lingkungan hidup, 12) peningkatan kesehatan masyarakat veteriner, 13) diversifikasi usaha tani, 14) peningkatan kualitas kesehatan dan status gizi masyarakat, dan 15) penyediaan air bersih. Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga di Jawa Barat, LSM dapat berpartisipasi sebagai pelopor, fasilitator, katalisator, dan agen advokasi di bidang ketahanan pangan.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR GELOMBANG LAUT (PLTA-GL)

Oleh: Massus Subekti

Penelitian ini bertujuan menguji coba prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Air Gelombang Laut (PLTA-GL) yang telah dibangun pada penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan lokasi pengujian di pantai Karanghau Sukabumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Saat beban ponton kurang 97 kg (141 kg) dengan rata-rata periode gelombang 9,7 s dan ketinggian gelombang 140 cm, pompa telah terbukti mampu mendorong air laut hingga ketinggian 8 m dengan tekanan 1.697 N/m2 dan debit air sebesar 0,0023 m3/s.  Sedangkan saat beban ponton kita tambah 97 kg lagi, sehingga berat kotor ponton menjadi 238 kg ( ½ bagian ponton terendam), maka pompa akan mampu
mendorong air laut hingga ketinggian 13 meter dengan tekanan 9.830 N/m2 dengan debit air yang sama 0,0023 m3/s. Dengan menggunakan turbin berefesiensi 0,88 dan menetapkan tinggi jatuh efektif sebesar 11 m, maka daya yang dihasilkan turbin sebesar 218 Watt. Agar PLTA-GL dapat menghasilkan daya sebesar 1.000 Watt dan menjamin ketercukupan air yang terisi pada reservoir, maka dibutuhkan 5 unit pompa untuk melayani 1 unit turbin.
Key Word: Prototipe, PLTA, Gelombang Laut, Energi Alternatif, Pembangkit Listrik